 | [none] | May 30, '11 1:47 PM for everyone |
http://exclusivasribadavia.com/indexz23z.php
 | [none] | May 30, '11 9:47 AM for everyone |
http://magicmaria.com/catalogo/images/news.html |
belakangan ini gue banyak membaca note, status, komen yang berhubungan dengan wanita terutama yang berstatus ibu. mungkin saja karena dekat dengan hari ibu versi asing. sebagian besar catatan tentang wanita berisi pujian mengenai wanita yang kuat, sempurna, bahagia, dan aneka rupa lainnya. tapi ada satu kesamaan dari smua itu, wanita yang dimaksud adalah ibu kandung alias seorang wanita yang hamil, melahirkan dan membesarkan anaknya.
meskipun gue masuk dalam kelompok itu (wanita menikah, hamil, melahirkan dan sedang berjuang membesarkan anak), segala catatan tersebut berefek sebaliknya. gue tidak menjadi termotivasi, senang, bangga, terharu, etc seperti respon yang mungkin diharapkan pembuat catatan. tapi sebagai bagian dari smua wanita (tidak terbatas hanya yang statusnya ibu kandung), gue justru kecewa dengan catatan itu. karena mereka yang menulis memuji satu kelompok wanita tapi justru mengecilkan arti kelompok wanita yang lainnya.
apakah seorang wanita yang tidak bersuami, tidak hamil, tidak melahirkan, tidak memiliki anak kandung bahkan tidak memiliki anak sama sekali, tidak berhak dipuji dan dihargai? Dipuji karena mampu bertahan di dunia patriarki dengan beragam ketidakadilan. Dihargai karena berkontribusi dalam masyarakat walaupun tidak memiliki salah satu atau smua atribut di atas. minimal tidak merugikan orang lain. apakah seorang wanita baru diakui sempurna dan terpuji hanya karena mau dan mampu hamil dan melahirkan?
bisa jadi ada banyak wanita yang tidak memiliki satu atau seluruh atribut itu sedih ketika membacanya. masih untung jika rasa itu dirasakan wanita yang MEMILIH atas kondisinya. bahkan yang akhirnya hidup single saja.
tapi, bagaimana dengan wanita yang INGIN sekali punya suami, bisa hamil, melahirkan, dan membesarkan anaknya TAPI tidak bisa? tulisan2 tersebut pastinya menyakitkan. yang nulis kesempurnaan wanita itu, pernahkah berfikir kalau di dunia ini tidak ada yang sempurna? ibunya sekalipun.
bukankah kelebihan yang kita punya menandakan ada juga kelemahan lain yang belum sempat kita sadari. menjadi ibu adalah amanat dari Tuhan. Oleh karenanya harus dijaga dengan baik tanpa pamrih. tanpa merasa lebih unggul dibanding wanita yang lain. tanpa jiwa kompetitif yang menyesatkan. karena hal itu tidak ada bedanya dengan fitrah sebagai manusia yang mendapat amanat hidup (dirinya sendiri) yang harus dijaga dengan baik tanpa pamrih, tanpa merugikan orang lain sebaliknya berguna bagi sesama.
mungkinkah hari ibu diganti hari wanita saja?
.. and my mother taught me that there are only 2 kinds of people in this world : the good people and the bad people. Beside that, there's no differences between people.
That part really moves me.
My husband also told me, far before we got married, that in his life he only aiming to be the good person. He learnt and then follow me to become a muslim. But for him, its not necessarily change him. Because he only want to be the good guy.
I don't have that idealism. Since I was a kid, I was thought that there are so many differences between people in this world. Although I was also taught that we can live peacefully among all those differences if we can respect one another.
For some reason, I believe in dualism of good and bad person only. You can be a muslim or jew or whatever. But there are a lot of bad people that hurt other even though they are faithful in any religion. And vice versa.
I can't resist to think a good friend that marry her 7 years boyfriend with different religion than hers. And they seem happy together. Khan, in that movie is a faithful muslim who marry a Hindu woman. I marry my husband from different nationality. My sister marry her husband from different culture. My gay friend enjoy his life far from his home with his gay partner, only because his home might not accept him that way.
Some people happy to be together with their partner from different background. And as long as they are good to one another, they live a good and peaceful togetherness. And not many can understand the life path one choose for themselves.
Despite crazily aiming to live in heaven in my next life, i think i'm gonna do what my husband do so far, try his best to be a good person. I'm sure it will rewarding someday. All religion will tell, good deed will get good return.
etelah sharing via note tentang tanda-tanda melahirkan, video persalinan normal beserta IMD yang ideal, kali ini saatnya gue cerita pengalaman pribadi berada di ruang operasi. Semoga bisa memberikan pencerahan.. in any ways.
Banyak alasan kenapa seorang ibu hamil akhirnya melakukan persalinan versi c-sectio alias caesar. Tapi secara umum, apakah operasi itu dilakukan karena emergency ataupun sudah sesuai dengan jadwal yang ditentukan, umumnya 'kegiatan' di dalam ruang operasi akan serupa.
PERSIAPAN Biasanya dilakukan mulai dari luar ruang operasi dan gak jauh beda dengan persiapan persalinan normal (jika ada waktu). Antara lain tes darah, tes organ vital (jantung, tekanan darah, temperatur), kroscek lagi soal histori kesehatan keluarga (ada yang diabetes, darah tinggi, etc) dan tentunya monitor kondisi kehamilan (detak jantung bayi, bukaan, etc. biasanya pake alat CTG kalo gak salah. dari alat ini juga bisa dilihat apakah ada kontraksi dan rentangnya. plus periksa dalam). menjelang di dorong ke ruang operasi, si ibu juga dicukur rambut pubisnya, ganti baju operasi, pasang penutup kepala. Di tahap persiapan ini, gue selalu deg-degan apakah operasinya akan lancar. Anastesi gagal lah (sulit siuman), jaitan yang gak sempurna (even ada yang tertinggal di dalam?), organ dalam lain yang terkena efek permanen, etc. Berdoa, hanya itu yang bisa gue lakukan... juga membayangkan segera akan ketemu dengan bayi gue.
eniwei, setelah masuk ruang operasi, sementara para asisten (perawat) cek dan ricek alat-alat, nulis di papan tentang data statistik operasi (nama pasien, dokter yang in charge, tanggal, jam mulai etc), dokter anastesi akan melakukan suntik spinal or epidural, tergantung kebutuhan. smua oprasi yang gue jalanin pakai anastesi spinal di tulang belakang bagian bawah dan hanya membuat numb bagian bawah tubuh. ada bentuk anastesi lain-general, yaitu si pasien akan tidak sadar selama proses berlangsung.
OPERATION START Anastesi Gimana cara anastesi ini dilakukan? bisa dengan si pasien posisi duduk maupun berbaring. yang terutama, tulang belakang harus bengkok (jadi kalo duduk di pinggir tempat tidur, posisinya merunduk serendah2nya. kalo tidur, rebah ke samping dan menekuk lutut ke arah kepala serapat mungkin.. agak susah ya dengan besarnya perut. gue rasain 2-2nya, lebih nyaman versi duduk). sperti suntik lainnya, kulit dibersihkan dengan kapas yang sudah diberi alkohol, punggung ditutupi semacam kertas dengan bolongan untuk memastikan area suntik. Ketika jarum nembus kulit, rasanya cukup sakit dan mengagetkan.. beda lah dengan disuntik di pantat ato tangan. dan setelah tembus kulit, ada rasa sesuatu ditusuk lebih dalam diantara tulang, rasanya gak sakit, tapi ngilu. proses ini cukup lama, kayaknya lebih 5 menit, memastikan obat masuk sesuai dosis. stelah selesai, gue rebahan di meja operasi yang lebarnya cuma cukup badan (tangan kanan dan kiri disanggap oleh tambahan papan. bayangin kayak disalib tapi rebahan gitu..). rasa numb akan terasa diawali dengan sensasi hangat dalem tubuh, sepanjang area yang di'mati'kan. 2 operasi gue, gue rasain cuma sampe stengah perut, yang trakir ini cukup tinggi kayaknya si dosis. rasanya lebih hangat sampai dada.
Di meja operasi yang sempit itu, pandangan gue ditutup kain ijo yang disangga besi, biar gue gak bisa liat pas si dokter ngerjain perut gue. Di indo untuk 2 operasi layar itu dibentangkan cuma skitar setengah jengkal di atas puser. Itu knapa memungkinkan untuk IMD saat caesar. Smentara di bangkok kmarin, layarnya bahkan nutupin dada, udah deket banget dengan leher. gue nebak nih ya, kalo letak layar itu juga menentukan sebrapa jauh area yang dijangkau oleh si obat anastesi.
Dalam posisi rebah di dada juga ditempelin alat monitor jantung, di tangan kiri di pasang infus dan jari dijepit buat apalah tau.. gak ngeh gue. trus di tangan kanan dipasang alat yang buat ngecek tekanan darah yang setiap 5 menit otomatis menggembung buat ngecek perubahan tekanan darah. juga di lubang hidung di taru selang oksigen. Rame yah?
Okay, setelah itu semua pasti nempel di badan dan gue confirm ke dokternya kalo gue udah numb (ditanya sama dokter emang.. sambil dia cubit2 bahkan saat mulai ngiris kulit gue. soalnya walopun gak sakit, bukan brarti gak terasa).
skitar 10-15 menit deh ya, si dokter membuka bagian abdomen gue (perut bawah) sampai gue merasakan digoyang dan gue yakin itulah saat si dokter menarik bayi gue keluar (ngebayangin aja, kan gak bisa liat). Setelah itu, smua proses berlangsung sangat cepat.
When the baby is out Bayi keluar, menangis, disambut dokter anak yang siap dengan handuk. stelah plasenta digunting, bayi dibawa ke gue. Ketika Jasmine gue bisa cium. Ketika Erina, langsung mulai proses IMD. Ketika Davienne, cuma dikasih liat, abis itu langsung di bawa ke meja untuk dibersihkan sebentar. baru dikasih ke gue buat di cium. Setelah selesai kontak dengan ibu, bayi dibawa dokter anak ke area bayi untuk proses selanjutnya. gue paling ngeh pas Davienne, karena mejanya deket dengan kepala gue. Cairan2 dari ketuban disedot, darah dibersihkan, dites APGAR, di timbang, etc. Setelah proses cek bayi di ruang operasi, dilanjutkan di ruang bayi. That's the time gue terpisah dari bayi gue sementara waktu. karena gue menunggu dokter menutup perut gue...
OPERATION ABOUT TO END Right, jadi tersisa gue dengan tim operasi yang menutup sayatan di perut. Konon ada 7 lapisan. Mulai dari kulit luar-dalam, otot2, etc sampai rahim. di 3 operasi, sayatan yang gue punya gak berubah lokasinya. dan di operasi terakhir, sayatan lebih pendek, skitar 2/3 sayatan sebelumnya. kata dokter gue, menyesuaikan dengan ukuran kepala bayi. stelah nutup, diperban scukupnya, gue dipasangin kateter (karena akan stuck di tempat tidur stidaknya 24 jam). badan gue dibersihkan dari darah, layar di buka, smua tempelan di badan juga di buka, kcuali infus. badan gue dipindahkan ke meja beroda untuk didorong ke ruang recovery.
Operasi officially selesai. tapi bukan brarti prosesnya selesai. di ruang recovery itu basically gue rebahan, mencoba tidur-istirahat skitar 1 jam-an abis itu kalo gak ada apa-apa, barulah gue dipindah ke ruang perawatan. gue gak boleh makan minum slama skitar 6 jam. abis itu diet cairan berupa air putih dan air kaldu. baru bisa makanan lembut besok harinya. dan makanan padat 2 hari stelah operasi. knapa? karena operasi caesar juga mempengaruhi kinerja pencernaan. gue bahkan perlu minum obat untuk bantu pup.
setelah efek anastesi hilang, datanglah rasa sakit dari bekas sayatan di area abdomen. untuk hal ini, doa gue hanya 1, gak kena batuk. seringnya doa gue gak terkabul. gue juga diharuskan bergerak ke kanan kiri untuk melatih otot, yang sakitnya cukup menganggu. tapi untungnya dengan bisa rebah itu, gue tetep bisa mulai menyusui anak gue sambil rebahan.
ohya ini note tentang crita dari ruang operasi.. jadi crita dari kamar perawatan mungkin gak perlu panjang ya.. :))
Closing Kalau sebelumnya gue pernah down karena tidak pernah sukses melahirkan normal, stelah pengalaman kmarin gue baru menyadari kalo apa yang gue lakukan semata2 untuk kebaikan bayi dan ibunya. Normal maupun lewat meja operasi, si ibu dan bayi sama-sama mempertaruhkan nyawa. Pada akhirnya yang akan gue ingat, apapun prosesnya, seluruh keluarga, teman, kerabat dan orang-orang yang menyayangi kita hanya berharap 1 hal : smua baik-baik saja. Dan itulah yang akan gue syukuri selamanya, diberi keselamatan oleh Allah.
next episode : crita dari phaya Thai, the hospital Salah satu bahasan hot di milis yang gue ikutin adalah susahnya dapet kerja buat pelamar berstatus ibu dengan anak (apalagi kalau anaknya masih kecil). Argumennya adalah pelamar tipe ini punya kecenderungan ijin bekerja lebih sering daripada karyawan laki-laki atau yang masih single. walaupun ini mungkin baru asumsi atau bisa saja benar (belum ada data statistiknya sih), rasanya gak adil ya. lagipula, apakah sering ijin berbanding lurus dengan kualitas performa? belum tentu...
Dalam salah satu training HR yang pernah gue ikutin, trainernya impor dari Kanada pula, menyatakan bahwa tren rekrutmen internasional dalam beberapa tahun belakangan ini adalah menghapuskan banyak data yang sifatnya personal menuju diskriminasi. Seperti jenis kelamin, usia dan kondisi fisik. Apakah seorang pelamar diterima atau tidak di bidang kerja yang dia lamar akan ditentukan murni dari kompetensinya. Dengan sendirinya, kondisi personal itu akan dipertimbangkan karena kesesuaian dengan bidang kerja. Misalnya seseorang yang tunawicara tentu tidak bisa ditempatkan sebagai operator telepon (dia juga mungkin 'tau diri' dengan tidak melamar posisi itu). Tapi kalau hasil tes kompetensi menyatakan dia handal sebagai data processor yang tidak membutuhkan komunikasi verbal, kenapa harus ditolak?
Well, jujur gue akuin, gue pernah berada di posisi rekruter yang diskriminatif itu sebentar. saat itu gue masih single. saat interview dan cross check ke para referensi, gue pasti bertanya seberapa sering ibu ini ijin dengan alasan anak. kesehatan anaknya pun kadang gue tanyakan, umur brapa, apakah si ibu ada yang bantuin urus anak di rumah, etc. Saat itu 'ketakutan' bahwa nanti kalau dia diterima jadi karyawan akan menjadi tidak produktif sangat nyata.
justru karena gue perempuan spertinya, sehingga gue lebih punya dan lebih bisa merasakan 'ketakutan' itu. bersaing di dunia laki-laki (yes, this whole world is still a male world to me) gak mudah. ketika seorang atasan perempuan bersikap keras kepada bawahan perempuannya, sbenernya dia takut kalau image perempuan yang mencampur dunia pribadinya juga akan dilekatkan kepadanya. kalau bos perempuan ngebelain anak buah perempuan, dia takut dianggap diskriminatif terhadap laki-laki. dan ujungnya justru membahayakan posisinya. (salah satu artikel yang gue baca bilang, perempuan ternyata harus berusaha 2x lebih keras daripada laki-laki untuk diakui. dan ketika dia lengah sedikit aja, dia akan dianggap gagal 2x lebih parah daripada laki-laki yang persis di situasi itu. kejam ya?). mungkin krn itulah, banyak ditemui justru bos laki-laki yang lebih soft kepada anak buah perempuan. dia gak ada tekanan terlalu berat secara sosial, hanya urusan profesional (again, pengalaman pribadi. bos cowok gak terlalu cerewet kalo gue ijin, yang penting kerjaan beres. tapi di lain waktu, bos sangat appresiatif ketika tahu gue ngorbanin waktu dengan anak demi kerjaan).
tapi ketika gue berada di posisi sebagai pelamar, gue baru bener2 nyadar kalo status ibu dengan anak (apalagi single mom) sharusnya gak jadi penghalang. pelamar harus dilihat secara profesional. Kalau dia profesional, pastilah bisa membedakan antara pekerjaan dan urusan domestik. pastilah dia sudah pertimbangkan masak2 sebelum mengirim surat lamaran atau bahkan datang saat diundang interview. Pelamar yang profesional tidak akan membuang waktu rekruiter karena itu berarti dia membuat orang lain rugi waktu. Dan sebagai pelamar juga seharusnya gak 'cengeng' dan menjadikan status sbagai tameng. Kompetensi harus dijadikan nilai jual utama. dengan berkembangnya dunia HR, pelamar dan rekruter yang bergerak ke arah ini sih, sudah mulai banyak.
Sayangnya praktek diskriminasi terhadap perempuan di dunia kerja susah dihilangkan, meskipun pelaku diskriminasi itu sesama perempuan.
gue stuck melanjutkan. karena tiba tiba sangsi, rasanya praktek diskriminasi terhadap perempuan akan terus berlanjut sampe kiamat.
Eh, kalo kita pengen bunuh orang itu, dosa gak? sbenernya sih, tu orang gak perlu sampe mati sgala, tapi kayaknya kalo gak mati, selama dia idup malah 'gak ada mati'nya ngegerecokin idup gue. pengen yang kayak gini, kira2 menunjukkan gue punya kelainan jiwa gak ya? sbenernya sih, karena kesel sampe ke ubun2 sampe gue nyumpahin tu orang cepet mati aja. tapi gue gak mau dipenjara... jadinya mungkin gue masi waras ya.. sbaiknya emang gak usah mati deh tu orang. tapi dibuat kapok. Dukun itu beneran bisa diandelin gak ? sbenernya sih, gue gak pernah percaya dukun2an, tapi kok prakteknya banyak di kampung halaman. takutnya, dia ngedukunin. jadi perlu dibales pake dukun juga dong? stidaknya gak ada nyawa yang ilang gitu. Kadang gue mikir, harus berdoa kayak apa yang sampe dikabulin Tuhan ya? Sbenernya sih, gak percaya kalo Tuhan cuekin gue, cuma kadang gak sabar aja, sampe kapan harus berdoa minta tu orang enyah dari hidup gue. sampe kapan Tuhan ngasih cobaan yang sperti ini. Duh, mana lagi hamil tua lagi.. katanya gak boleh mikir yang aneh2 ya? Sbenernya sih, gak pengen mikirin ini. tapi can't help it. kelakuan tu orang udah nista banget. Sayang dan cinta itu mudah pudar atau ketutup ya? sbenernya sih gue gak mau percaya itu, apalagi kalo sama orang yang masi deket hubungan darahnya. tapi kalo sampe lupa diri dan ngebelain yang gak bener sampe kasih sayang itu terlupakan, apa dong artinya... arrrgggh!! mulai deh gak rasional. abis, berurusan sama orang yang juga gak rasional sih.... ampun Tuhan! kata MUI, nikah siri itu sbenernya istilah yang dalam islam gak ada. Nikah itu sendiri udah cukup. entah deh itu istilah mulainya dimana.
dari dulu gue slalu gregetan sama yang judulnya nikah siri. soalnya, gue udah suuzon duluan kalo orang yang nikah siri itu adalah : - suami yang kawin lagi tanpa restu istri - perempuan simpenan asalnya kumpul kebo yang insap dan pengen kejelasan - perempuan yang rela jadi istri ke-sekian dengan aneka alasan - laki-laki yang gak bertanggung jawab - laki-laki 'alim' dan bertanggung jawab tapi pake tameng agama biar bisa dapet 'mainan' baru. dengan alih-alih meningkatkan keimanan, tapi istri barunya biasanya lebih muda tuh.. - dan yang paling bikin muak adalah alasan nikah siri karena menghindari zina.
walopun kenyataan di lapangan, ternyata ada pasangan yang terpaksa nikah siri karena : - tidak ada petugas yang mau ke kampung mereka (kisah nyata di tanah air karena kampung itu banyak penderita kusta) - tidak mampu bayar - daerahnya sangat terpencil yang sulit dijangkau, akhirnya nikah siri yang diakui pemimpin adat
Nah skarang administrasi nikah mau ditertibkan, sehingga orang2 yang menikah apapun alasannya harus dicatatkan. sampe sejauh ini, gue mikir, ya bener dong? kan negara hukum. walopun secara agama sah, tapi smua aspek kehidupan kita emang diatur sama undang-udang kok slama ini. dari lahir, meninggal bahkan buang sampah pun ada aturannya! trus, knapa giliran bagian nikah di atur, pada kebakaran jenggot?
kalo smua orang pengen ikutin agama masing-masing SAJA tanpa hukum pemerintah, gue yakin negara ini gak bisa berdiri dan berlangsung tertib.
yang gue pahami, UU itu nantinya tidak melarang orang menikah, tapi setiap pernikahan harus DICATAT, biar urusan administrasi selanjutnya juga mudah, yang ujung2nya menguntungkan pelakunya kok. Anak punya akte yang bener, istri punya buku ala paspor, kalo ada apa2 smua bisa diurus dengan resmi juga di instansi terkait.
Dampaknya memang, dengan UU perkawinan sebelumnya dimana negara tidak pro-poligami, maka orang yang mau nikah lagi, harus menceraikan istrinya yang sah secara hukum. (kcuali UU ini direvisi). Jadi repot dong? ya iyalaaah! emangnya hidup pernikahan itu sendiri gampang? nikahnya sih simpel, kalo gak mau repot bisa pake WO, malemnya udah boleh bgituan sesukanya tanpa digerebek kamtib. tapi apa iya nikah itu cuma untuk melegalkan hubungan seksual? (kalo ada yang jawab iya, gue yakin mreka dikemplang atu2 di akhirat).
Regarding kelompok kedua yang sbenernya mau mencatatkan tapi banyak kendala, gue pikir itu PR pemerintah. mungkin biaya ditiadakan buat mereka, siapkan petugas pencatat di pelosok negri yang gak pilih2 tempat bertugas. problem solved.
oh, ada lagi wacana yang dikeluarkan kelompok pertama, pelaku nikah siri dikenai sangsi pidana, kok yang berzina bebas? gue pikir orang2 ini picik skali ya. pelacuran dan perzinaan mau-maunya disandingkan dengan pernikahan sakral. first, berzina dan pelacuran ya itu urusan masing-masing dengan Tuhannya. mreka bilang, gak adil. ya udah biar adil, kalo pak haji lagi nginep di rumah istri muda, boleh dong digerebek rumahnya, digiring ke kantor polisi dan ditahan satu malem.
Jadi, alasan apa lagi buat orang2 gak mau mencatatkan pernikahannya? kalo mreka itu tetep keukeuh bahwa dalam aturan agama boleh, ya sana tinggal di negara yang cuma pake aturan agama. jangan di Indonesia.
menu acara gosip WasWas pagi ini featuring cerita seorang perempuan yang 'curhat' kalo suaminya selingkuh. dengan banyak bukti2. si suami ini adalah pengacara artis yang gue malah gak pernah denger namanya. haha.. gue kuper ato yah artis2 baru gitu kali yah? inisial JD, masi muda, 20 taon, blasteran, lagi proses sidang kasus narkoba. adegan si suami sama ni artis dibatesin jeruji besi tapi adegan mreka mesra2an di fesbuk lancar.. bahkan status di fesbuk si cowok ini in relationship sama ni blasteran, bukan merit sama istrinya. halah. eniwei, yang mau gue highlights sih, ketika si suami udah clearly said dia emang deket dengan si artis scara profesional maupun pribadi dan udah kenal baik keluarga si artis, si istri yang udah merit 12 taon dengan 2 anak dari si pengacara ini tetep mau berusaha sekuat tenaga mempertahankan pernikahan. padahal suami pun udah jarang pulang.. hm... gue kelar baca buku Pelangi di Ujung Senja punyanya mbak Adriana berisi beberapa kasus suami yang selingkuh. emang sih banyak alesan mreka balik bareng lagi juga karena alesan selingkuh juga aneka rupa. tapi skilas aja dari itu smua, mungkin kalo slingkuhnya sembunyi2 kalo gue sbagei istri masi bisa mencoba pertimbangkan. stidaknya dengan sembunyi2 itu brarti dia masi 'takut' or 'sungkan' or masi pertimbangkan perasaan istri dan komunitasnya kalo ketauan. Nah, ini udah JELAS! jelas2 si suami gak menghargai istrinya, gak peduli perasaannya, dumped his wife IN PUBLIC. Gue sih brasa gila aja kalo mau balik lagi. gak kebayang deh, kalopun pernikahan dipertahankan, bentuknya kayak apa. suaminya sih jelas2 brengsek. dan istri yang kayak gitu beneran setia ato apa yah? If any Ied means a family gathering in my side, I can't deny that xmas means the same on Dave's side (especially given the fact his family members are scattered around the globe). Since my first December spent together with him a few years back, we've never had it in our own home. It always be the time for annual holiday, taking leave from work. Only 2 times it's became a family xmas celebration at Dave's side at 2 different countries with 2 different styles. But the similarity is : it's not something religious: no church time, no masses, even no thank-the-Lord-speech before meal-- its a gathering.. a (very) rare occasion.
But because both were done while we were away from home (we stayed at relative's house), we never really did any xmas preparation. Never become the host. Don't make any meal menu, buy tree or new ornaments, arranging table for family, book xmas dinner or brunch, etc. The only same thing we do, with or without dave's side was SHOPPING. :) wrap them and give to our loved ones around us at the 25th morning. (Last year was in singapore. and since we took my mum for a holiday break, she's 'accidently' celebrating christmas. hehe).
This year, xmas holiday is spent just at home but still away from home. :) Today, we buy our first xmas tree. Yesterday I book christmas brunch at a nice place. The day before, we start to hunt for xmas gift. even tonight, we are still adding some ornaments. tomorrow, will hunt for more celebration preparation. Bangkok is ready for this holiday season since November, all decoration, sale and lights is around since then. for us it's all mean one word : excitement.
Celebration, anything, is always fun, especially if you have hidden agenda behind it, an important ones. and this year, we are celebrating a family reunion again, last one was a couple years ago, this one will be the first for Erina. My little girls soon will understand the mixture part of this family. Not only that Bunda and Daddy speak a different language, but much more beyond that. And christmas, will be just one small part of it.
Nothing fancy.. all the buying action is only the 'ornament'. No offense to any background (culture-religion), it's just a tradition. Family gathering, anywhere, with any side, is the important part.. and meaningful. Something we will cherish many years from now.
Have a merry holiday!!
 | Adopsi | Jan 16, '10 2:56 AM for everyone |
Tadinya saya ngantuk dan berfikir mau tidur siang. Tapi baru menutup mata tiba-tiba bayangan beberapa anak adopsi yang saya temui pagi ini membuat saya ingin sekali bercerita.
Di sini sesekali saya mencoba 'gaul' dengan membawa anak-anak sesuai jadwal playgroup yang dibuat oleh BAMBI (Bangkok Mothers and Babies International). Di meja tamu saya disambut pengurus yang berbeda dari biasanya. Karena dia, sebut saja M, pernah tinggal di Indonesia, kami langsung akrab dan M tanpa diminta banyak cerita tentang 3 orang anaknya. 1 anak kandung, 1 orang anak adopsi keturunan China dan anak terakhirnya juga adopsi di thailand. M sendiri orang Belanda. Mengingat tetangga saya (Italian-Swiss) juga sedang dalam proses mengadopsi bayi thailand dan sepertinya prosesnya panjang, saya jadi banyak bertanya bagaimana sebenarnya proses yang harus dilalui dari kacamata 'yang sukses'. Oya, tetangga saya penyayang anak tetapi memang istrinya sudah berkali-kali mencoba bayi tabung dan gagal. Si istri pernah hamil 1x anak kembar, tapi yang bertahan hidup hanya 1. Anak ini temen baik jasmine.
M dan suami pernah dinas di China tapi kemudian relokasi ke Eropa. Dari sana mereka apply untuk menjadi orangtua adopsi bayi dari China dan prosesnya tidak mudah. 4 tahun lamanya mereka menunggu sampai akhirnya mendapat lampu hijau dan mereka terbang menjemput anak tersebut. Di Thailand sendiri mereka butuh waktu sekitar 2 tahun sampai aplikasi disetujui dan anak adopsi boleh tinggal bersama.
Hari itu, selain M, ada 3 orang ibu lainnya yang datang berdua dengan anak balitanya yang sangat kontras warna kulitnya. Agak keypoh sih saya nyamperin dan kenalan dengan 2 diantaranya (kebetulan anggota baru dan mreka duduk semeja). yang pertama ibu Amerika dengan anak adopsi India, yang kedua ibu dari Korea dengan anak adopsi dari thailand. 2-2nya memang challenge tidak bisa punya anak katanya dan sudah lelah dengan aneka intervensi medis. yang ketiga gak tau juga (kan gak kenalan) bisa jadi suaminya memang berbeda ras saja.
Saya jadi ingat 2 orang teman di Balikpapan yang juga mengadopsi anak Indonesia. Keduanya keluarga Australia yang sebelumnya sudah memiliki 1 anak kandung. Prosesnya juga gak gampang. Kebetulan ibu D dekat dengan saya saat itu, konon dia harus menyiapkan puluhan dokumen yang berbeda dengan legalisir resmi yang harus dilakukan bolak balik Balikpapan-Perth. Setahun setengah kemudian, bayi perempuan usia 3 bulan sudah jadi adik dari anak laki-lakinya, yang saat itu sudah berusia 6 tahun. Ibu D juga punya pengalaman mencoba bayi tabung 3x stelah lahirnya anak pertama tapi tidak berhasil.
Saya salut sekali dengan para ibu yang (beberapa) bersedia merelakan mimpi untuk hamil dan melahirkan. (Saya aja kadang masih mellow mengingat gak pernah sukses melahirkan normal, gosh! saya harus lebih banyak bersyukur.).
dan lebih salut lagi melihat mereka bersedia memberikan kasih sayang kepada bayi lain, apalagi mengingat diantaranya beda ras. And they proud to be the parents of those lucky babies. Will I be able to do that? I really hope I would, if i was on their shoes.
... I wonder if there are more saint out there. Forgive me if this is sound insensitive, but mungkinkah para pasangan yang memang challenged untuk memiliki anak tapi punya ekstra cinta dan (apalagi) ekstra uang, daripada menghabiskan ratusan juta untuk bayi tabung, memilih untuk mengadopsi saja? uang itu bisa jadi lebih bermakna untuk anak-anak yang merindukan orangtua maupun kehidupan layak.
===== data statistik emang agak timbang karena kebetulan banyak ibu yang beranak adopsi yang saya kenal adalah orang asing. Keluarga Indonesia dengan anak adopsi legal yang saya kenal cuma 1, lalu ada juga yang mengangkat anak saudara (entah apakah legal/enggak).
Spertinya kalo nanti ada teman yang berniat adopsi, do it legally yah. for the sake of the children.
Based on a statement made by a friend saying : Thai food is the best all over Asia, as a comment to my struggle to love thai food, I am intrigued to made this note. Born and grow up in Jakarta and been living less than a year in Bangkok, the statistic might not seem balance to make such statement. But, learning furthermore on how each cuisine (not just food) has each own background, I will stick to my believe (and taste) and boldly say : Indonesian Cuisine is richer. I've never been to all over Asia. That's why instead of saying 'thai food is NOT the best all over Asia' i prefer to say 'Indonesian cuisine is beyond'. Any of these statement is very subjective as some might favor Japanese or Chinese or Indian food or others. Anyway, misfortune down to Indonesian cuisine is because its not well promoted and acknowledged as far as Thais does. Despite mismanagement in tourism, less creative and other factors, Indonesia has more to offer. Stretches wider and comprise of more nature beauty, culture, uniqueness, and complexity, I believe the cuisine is richer too, not only to thai food, but could be to other country. No, I am not trying to mock Thai Cuisine. Thai Cuisine is beautiful. I like some of them too. Influenced by neighbor countries around it, in general Thai cuisine (the food, preparation, cultural background, etc) is divided into 4 regions with its characteristics : Northern, Northeastern (Isan), Central and Southern. Thai people when dine in a group will share the dishes that usually consist of salad, soup and main dish. 3 generic main dishes I saw around me are seafood (usually saba fish), pork (any part of it) and chicken. Beef is less popular than pork and duck is sometimes found, especially in chinese type of dish. My local friend said, Central thai cuisine has the most flat flavor (bangkok is in central region). While to me all thai food in the end, look and taste similar because they use similar ingredients at most dishes : lime juice, fish sauce, chopped chilli, lemongrass, garlic and thai shrimp paste. I think the use of fish sauce in majority of thai food that makes it tastes the same. Just like cuisine in any part of the world, influence can't be neglected. Both countries I am talking about here has Chinese and western influence. and since the distance between thailand to Indonesia is not too far, some of the ingredient are the same. But since its cultivated in a different soil or prepared by different hand, the result can be different too. If you consider geography factor also, it already shows that Indonesia is more varied. Thailand mainland is big while the seashore is not as much as land area. They have mountaneus part on the north, hill tribe and big-famous river (the chao praya) which existence also influenced their dish. While Indonesia is an archipelago with some big island, a lot of seashore, also big and wide river in Kalimantan (borneo island), volcanic stripe, hill, mountain, and so much more spreaded from the tip of Aceh to Papua. Does it make sense now why I adore my homeland's cuisine? not yet? let's go for a bit more details. Indonesia has Maluku, the spice island for instance, contribute to the spice world. Some of them are native like clove, nutmeg and galangal. Kemiri, is definitely a spice where you can't find in any corner in Thailand. Tempe is invented by Javanese (they must copyrighted it). Both place eat rice. At thailand they eat the dishes with either rice (their jasmine rice is famous) or sticky rice (ketan). In Indonesia, rice can found in a form of both (rice-sticky rice), or ketupat (rice steamed in a woven packets of coconut fronds) or lontong (rice steamed in banana leaves). Some places even substitute rice with other carbohydrate source like cassava, sago, ubi (sweet potato). And have I said, I can't find still the comparison to Indonesian 'nasi tumpeng'? A cone shaped rice with various dishes around it. If in general thai food divided into 4 regions, I can't tell how many region Indonesian food divided into. Say, the sumatra island itself has totally different cuisine between the end of Aceh and Palembang in the other end. Of course, I must mention west sumatra which famous as Padang food. Padang itself is under minangkabau culture where the male usually travel for life (merantau). It even said that Negeri Sembilan in Malaysia is heavily influenced by Minang culture and maybe its also why you can find Padang ground in Singapore. No wonder, padang style food is now found also in Malaysia and Singapore with a slight changes from its authentic form. Should we go to Java with totally significant different, just to name Sundanese cuisine and Central Java cuisine? Sundanese is very fresh with hot spicy sambal while Central Java fame for its sweetness. Then East Java and Madura also offer another variety and different from other. We can go to Kalimantan to find river food and huge crabs or even fly out to Manado with extreme spice, unbeatable culture where they'd eat everything, literally. Oh oh, I forgot Bali! the island where some people think as the neighbor country of Indonesia (or sometimes they said Indonesia is PART OF Bali.. God bless thee). Thai love pork? so does Balinese. their Babi Guling should be good, but I dont eat pork so I must highlights Balinese way in preparing grilled seafood or their famous sambal betutu. Too much information? as a closing, maybe i will also note about Sate (skewers). Here, I only find 1 type of satai regardless what's in it (pork, chicken, shrimp.. ) all use (again) fish sauce. Indonesian has Sate Madura (with soy sauce), Sate lilit (on a lemongrass), sate kelapa (with shreded coconut covers) to name a few. When I went to Lara Djonggrang, a fine dining Indonesian Restaurant in Menteng Jakarta, they have one full page menu only about Sate (over 10 different types). Here's no discussion yet about snacks, street side food, sweets, ice, etc, where both in Thai and Indonesia also big about. But I am done for now. After you read this, I hope you will appreciate more or even triggered to know more about Indonesian cuisine. Which food is best can't be judged by a person, cos taste buds is very individual. Grow up in an eating family, I am not that fuss as much as my sister in tasting food from parts of the world. I like Italian, Japan bbq and French (who's not??). But my idol ever.. you know what. :) -- thanks to Ayla for giving me the idea of this note. ternyata kata orang, artikel, kata ortu, maupun kata-kata lain yang bilangin ibu hamil 'jangan stres' 'jangan banyak pikiran', etc, ada benernya.
skarang saya hamil udah yang ke 3x. hamil anak pertama berlalu dengan baik-baik saja, gak ada yang istimewa. yang saya inget cuma ngantuk berat di kantor stelah jam makan siang. krn pada dasarnya saya tuh orangnya easy, walopun hamil anak pertama yah, juga biasa aja. gak minta extra treatment. (ada loh, dengan alasan hamil brubah jadi 'ratu sejagad' dan annoying) Kalo ada masalah, dibawa enteng, bahkan kadang gak peduli. Soalnya semua di skitar saya bilang gitu... 'eh, kamu hamil. udah gak usah dipikirin'.
trus, pas hamil anak ke 2, baru sadarnya pas udah masuk 8 minggu. jadi pas hamil muda banget itu, saya masih pecicilan outbond, loncat2 dan tentunya tidak bergaya hidup sehat. kendala yang diinget cuma mual yang agak lebih seru dibanding pas pertama. tapi untungnya, karena kerja, fokus bisa teralih. oya, saya gak pernah tuh kerja yang diem2 aja. apalagi di anak kedua, waktu itu jadi training coordinator yang sering (baca: hampir tiap hari) keluar kantor. hamil kedua berlangsung damai hingga masanya.
naaah, pas hamil ke 3, karena memang gak rencana (banget!), saya sempet drop. bawaan gak hepi. yang terjadi? bleeding aja gitu, pas sebelum 10 minggu pula (padahal gak pake outbond kayak sbelumnya). sindrom orang hamil pertama kali juga ada lagi slain itu, kram perut dahsyat, pegel pinggul dan kaki terasa banget dan sakit kepala. yang terjadi juga salah satunya berat gak nambah-malah berkurang. makan agak susah dan pembawaan emosi aja. kalo gini terus, bisa2 hamil versi bedrest,
tapi ketika saya menerima (dan tentunya karena dukungan semua orang) yang membesarkan hati, mulai deh saya kembali ke gaya asalnya, get it easy. dan ketika itu terjadi, keluhan hamil rasanya gak separah sebelumnya, bahkan kalopun terasa, saya memilih tidak mengeluh kalo bisa-tapi jalanin aja. dan ketika liat shape bulet di cermin, saya sudah bisa merasakan aura seneng, 'proud of being pregnant' lagi. naik turun kereta ataupun jalan kaki yang jauh rasanya lebih ringan. masalah2 yang dulu terlihat besar, rasanya ada jalan keluarnya.. walopun belum tau itu apa.
Saya berhasil membuktikan ke diri saya sendiri, kalo get easy when pregnant, bisa bikin bahagia, daripada kepikiran terus dan hamil jadi satu2nya fokus hidup slama bulan2 itu. kalo itu yang terjadi, hormon yang jumping around berpotensi bikin si ibu 'gila'.. serius! gak bener dikit bawaannya sedih-marah-kecewa. jadi emotional buyer. kadang, jadi partner yang monster.
Saya jadi inget dulu, hamil sharusnya bukan jadi kendala untuk aktif, selama kita bisa menjaga agak janin baik-baik saja. dan hamil bukan jadi tameng untuk 'melenceng' - tiap hari bangun siang, capek, males, gampang emosi. don't let the hormones totally control us. saya liat, sebagian besar temen2 yang hamil sambil kerja full time, bisa lebih easy going daripada yang full time housewife (maaf, ini survey terbatas tanpa pake metode. jadi yang mrasa gak bgitu, jangan tersinggung ya..)
Emang sih, kedengerannya tadi kok hamilnya kyk terpaksa ya? sementara banyak ibu2 lain yang ingin hamil. Tapi saya realistis, ketika sudah 3 kali, excitementnya memang beda. bayangan tanggung jawab dikali 3 kadang2 terlintas dan membuat rasa 'ngeri' yang sulit dijelaskan. but, when you get the trust, it means you can do it! ibu bahagia dan optimis, Insya Allah anaknya juga merasakan dan kemudahan diberikan. smoga.  | sabar | Oct 27, '09 10:58 PM for everyone |
agaknya materi ini bisa datang dan pergi sesukanya. gue cukup sabar untuk hal tertentu (ngedengerin curhat, nunggu acara favorit, nunggu para sohib yang emang biang ngaret kalo janjian, ngadepin para pejabat yang ful birokrasi - krn emang gak bisa ngapa2in.. dsb). dan mudah ilang sabar untuk hal lainnya (disela antrian sama orang, nunggu kendaraan umum yang gak dateng2, dan.. eng ing eng.. pas jasmine berulah).
Anak pertama gue, yang skarang udah lewat 3 taun, sbenernya pintar dan sabar. dia bisa dinego, berkompromi, menunggu, dsb. smua biasanya gara2 gue. say, dia pengen face painting yang sudah gue janjikan dari lama, dan ketika bendanya udah di rumah, dia masi bersedia menunggu gue ini itu dulu (yang sbenernya sih.. kalo dipikir2 gak penting) sebelum kita ber face painting. dia sangat pengertian kalo gue udah di depan komputer brarti gak bisa diganggu. walopun blakangan ini, mengingat dia udah mulai kenalan sama internet dan words, dia mulai nagging minta gantian. dia mau tahan gak tidur padahal udah ngantuk, nungguin gue ngabisin film di HBO, krn dia gak bisa tidur kalo gak dipeluk gue.
tapi gue gak sabar kalo dia udah berulah, terutama kalo emang gue tau dia sengaja. sperti pagi ini.
sperti biasa di pinggir taman belakang kita ngerjain lembaran soal. dan tiba2, dia gak bisa mengenali bedanya angka 5 dan 6. (padahal dia udah mulai count sampe belasan). oke, gue coba ulang dengan menghitung aneka objek dan dia bisa nyebut. stelah 5 menit, semua angka dia sebut '5'. oke, mungkin dia lagi gak mau 'belajar'. gue tutup bukunya, eh dia buka lagi dan ambil gunting. oke.. let's cut and paste. fokus di angka 6. dan.. stelah skian usaha, ulang count dari 1 (dan sukses), count objects (sukses), cuma belum nyanyi 'buckle up' aja.. dia tetep nguji kesabaran gue dengan sok serius berfikir.. hm, ini angka brapa ya? setiap gue tanya, mana yang '6'.
i'm sorry, my patience level is so low. i close the book once again, with emotion, and left her there... on her own. with that pose.
ternyata, butuh waktu buat gue belajar pagi ini. belajar bersabar.
closure : jasmine melanjutkan lembarannya, dan setelah dia merasa cukup, dia tutup buku, beresin crayon, dan nyamperin gue. 'bunda, komputernya matiin dulu, kita face painting yuk.. bikin butterfly'. so.. gotta go guys. she is really patient.. to me.
After quite a long waiting, since May, finally this trip to immigration is scheduled for obtaining the 1 year multiple entry permit, for business purpose (dave) and for dependants (me, kids, the girls). The preparation for this day also not short. After Dave got his work permit and went few times to immigration for so many stamps, they are ready for processing us. Beside a couple of forms, travel documents, marriage-birth certificate, legalized copy of all, some photos, I also prepare another letter confirming Santi-Gemi is Dave's dependant from Indonesian Embassy. And to get these, means several trips to embassies (british-indo). All legalized copies from embassies, need to be stamped by the thai consular. Good that we don't need to come in person for this, so Dave's secretary can do it herself prior to Immigration day. We've made few trips to thai consular outside Thailand before today to get a 3 months non-immigrant visa for all of us. It was tiring. Yes, okay, we travel. To singapore and even back to Jakarta. However, it doesn't sound fun when you do that because that's the only thing you can do unless you'll get deported. So, we really hopeful that we don't need to be in that situation again, at least anytime soon. I made final preparation for few days, communicate with company people who will assist us. Both party want to ensure all smooth and nothing would fail us. I can't even sleep well the night before. (Yes, that's how it meant for me, personally). We all woke up early, include the kids, rushed ourselves to meet the company people by 8.30 at the office. Apparently, beside my family, in the same day they will apply some stuff too for other 2 engineers from Indonesia, those are my friends too. So, the morning started fun, like picnic, after we all met. Well, the morning didn't start that smooth as i predict though. few bits here and there hold us up, and we arrive at the new immigration bureau only by 10 am. (we left home just before 8 AM). and that was it. each of us had a queu number, mine cubicle M5, no 11. different person to different officer. My family was considered as a group, 1 number enough. waited.. waited... first engineer get into the cubicle.. aaaand failed! okay, i'm fully alert now. after a while, 2nd engineer get into a different cubicle, beside his passport and photo, the rest of documents is exactly the same with the first one. wait! He got it! he passed. with exactly the same documents. funny thing is, the 1st engineer can't complain to the officer. Maybe the company people afraid, it will make the 2nd engineer application would be reconsidered. My failed friend think like what i think. get another queu number, find a different officer, re-copy the documents and try again. But, the other won't risk it. He must return to immigration in a week. what a waste of time. (in end of the day, I've been told that his failure factor was his photo. Well, every applicant must submit photos, not just passport photos, but photos of the office front side, photo your daily activities-in my case photos of my residence and family group (all applicant) photo together in front of the house. And one of his photos showing his daily activities, is him pictured with a female colleague at his work desk, happy face, close to each other, give victory finger sign. No hugging though. Mental note : no happy face photo, no victory finger sign, no photo together with diffferent sex). 11.30. M5-10 was inside. I start to get worry cos 12 sharp they close for lunch break. and i was right. 11.45, the officer rejected us, 'come back after lunch'. Break. Have i told you this new building is massive? It is. It houses many different departments. from foreign affair, land, revenue, .. many. At the basement, you will feel the regular thai thing, shopping center. with shops, cafe, restaurants, food courts, banks, ATMs, promotional hall. Also, by 12.30 we finished lunch and go back up, the immigration bureau door is locked! a long queu in front of that door. can't imagine how many foreigner just Bangkok has. so much! 1 PM, sharp, door was opened. we get into the office in line. wait again at M5. already 1.25 PM, all cubicle start to work again, not the M5. by 1.35 a different officer come in and sit and we (me-dave-company people as translator) just get in there. show our number and sit. aaaaand partially failed. Supporting documents from Indonesian Embassy was rejected. Although, previous information said, applying as dependant required a prove of relationship. If don't have marriage certificate, birth certificate, or other, must supply documents issued by consular or embassy. The didn't accept the fact that both Santi and Gemi's life is our responsibility and that they are Dave's dependants. I was down. They are family. They have non-immigrant visa, not just a standard tourist visa, or even transit visa. Non-immigrant is for dependant, sponsored by company. NO. Still can not go further. The officer advised us to find other section who will consider them. for now, only 4 passports stamped. Finish? NOT YET. From M5, we moved to another cubicle, for signature. From there, we queu again in a different section at another wing, for re-entry permit. Yes, you get your 1 year, but not yet permitted for re-entry. once you leave, that's it. Here, we (well, the company) paid double than at M5. another wait period. and it was 3.30 PM, when we got our final stamp of the day. Oh, and the other section won't approve santi-gemi. They must leave the country regularly to get back in, if we wish them to live in Bangkok. :(( Side note, they want applicant to come in person, even for babies. and the whole day, not a single officer ask, which are my kids or the girls. Like, they don't need them exist there. Why bother bring them along then? A long day, partially success. But for us, it's a fail day. Nothing in here is definite. Nothing is clear. Who to rely on? - why we were here at the first place... now i have blur ideas about it. Kira2 itu deh gambaran kondisi gue saat ini. Daily basis cuma ngendon di rumah main sama anak2, main komputer dan keluar rumah kalo ada keperluan saja, biasanya berhubungan dengan urusan anak dan dapur. Sejak pindah ke kota yang bahasanya bikin gila dan hurufnya kayak toge ini dan akirnya menjadi expat, bisa diitung pake jari berapa orang yang bisa dinyatakan teman. kenalan memang ada, di beberapa kesempatan pas penyakit anti sosial-nya sembuh, tapi ya itu.. kesempatan2 itu sangat minim. sebulan skali pun tidak tentu. Sesekali kangen juga punya temen ngobrol untuk diskusi, dari hal remeh sampe serius. Menurut orang2, gue temen bicara yang baik dan menyenangkan kok. Suami gue aja doyan bener ngobrol sama gue, sampe akirnya pengen nikah dan bareng2 selamanya. hehehe. Tapi untuk sampai tahap itu, kenalan-berteman-sharing-spending time with them-catching up one another, kok gue males dan menunda terus ya ? ada info playgroup mingguan sejak 4 bulan lalu, sampai sekarang blum ada yang didatangi. blum kegiatan yang agak remeh lainnya. oh, yang penting pun masi blum dibuat, padahal janji ke pemesan untuk dilakukan segera. penyakit menunda yang meradang parah. prokrastinator sejati-nya keluar.
Kenapa ya?
dari segudang kemungkinan, ada salah satu hal yang gue yakin berpengaruh. gue brada dalam comfort zone interaksi dunia maya. rasanya kebutuhan batin untuk berinteraksi dengan orang lain sudah terpenuhi. kirim email, bercanda, saling support... rasanya lebih nyaman dilakukan lewat internet. semua spertinya ada. bahkan pelukan yang cuma berbentuk tulisan atau sesekali emoticon, udah bisa bikin gue seneng kok. akal sehat gue sih bilang ini udah tahap berbahaya. tapi akal pemalas gue bilang, enak.. praktis gak capek.
faktor kedua yang teringat, perubahan life style. dari warga kantoran menjadi warga rumah. agak2 kayak bales dendam dan menjadikan kemewahan tinggal di rumah sebagai liburan tanpa akhir. mumpung gak wajib mandi pagi. mumpung gak ada deadline. mumpung gak ada rapat ato bos request. mumpung waktu gue bebas gue tentukan untuk apa.
Tapi, sampai kapan?
semoga gak terlalu lama lagi. akal sehat lagi bekerja aktif belakangan ini. paling utama sih, untuk ngajak anak2 belajar going out and about. secara bapaknya sebenernya pemalu dan berbakat anti sosial, baiknya ibunya mengimbangi. juga.. si akal sehat mengingatkan, hidup gak cuma sampai besok. masi ada tahunan lagi yang harus dijalani, jika Tuhan mengizinkan. trus, mau jadi apa? bekalnya mana? masak kenikmatan saat ini terbuang sia-sia karena males nabung?
i used to have so many dreams. today, my dream is simpler. i want to have this kind of day, last forever. :)
|  | semua barang dikirim langsung dari bangkok dan most of them limited edition. yang berminat bisa sms ke +62 815 1400 3447 atau email ke finaisme@yahoo.com. setelah booking confirmed, bisa transfer pembayaran ke Bank Niaga acc. a/n Fina Khairaty, no. acc. 078 0103 229 129. harga tidak termasuk ongkos kirim dari jakarta. pembelian 3 pc ke atas discount available. :) |
|  | fun fashion in an affordable price. semua made in thailand, dikirim langsung dari bangkok. silakan sms ke +62 8151400 3447 atau email langsung ke finaisme@yahoo.com bila berminat/booking items. |
| |